22/02/11

dibalik hening Rawa Pening



Danau Rawa Pening merupakan satu-satunya aset panorama yang terletak diantara jalur padat kota Salatiga-Semarang-Ambarawa. Suatu suguhan keindahan alam manakala hamparan air membentang diantara barisan bukit dan pegunungan.
Keindahan alam tercipta sedemikian rupa, dan manusia dapat menikmatinya…

Orang desa (berlatar belakang pemikiran tradisional) menggantungkan hidupnya untuk bermatapencaharian di dalamnya…. Sedang orang kota yang tak berkaitan pola hidupnya dengan saujana alam tersebut cukup sesekali datang untuk mendapatkan sensasi bagi inderanya atau dapat pula untuk sekedar mendapat pengalaman “desa-desa’an”.

Memang desa-kota saat ini bukanlah suatu dikotomi kehidupan yang seolah-olah masih terpisah antara jarak dan waktu… Sudah hal yang lumrah pencari ikan di Rawa Pening mengankat telepon genggam ketika sedang asik melemparkan kail pancingnya menuju tengah rawa. Hal yang bernilai artistik pula ketika ada sebuah tas jinjing terbuat dari anyaman tanaman enceng gondok yang sudah dikeringkan dapat dikenakan seorang ibu ketika berbelanja di pusat keramaian kota. Komoditas barang fabrikasi telah masuk dalam kultur desa sehingga turut dapat memberikan suatu akselerasi peradaban, demikian pula barang kerajinan tangan yang menembus trend pasar di kota pun turut berperan meredam gaya hidup utopis yang sulit dicari akar budayanya.


21/02/11

Gelora Garuda — terbang melayang... di ruang mengambang


Tanah air kita luas, Bumi kita hijau...
Ribuan anak bermain bola di setiap celah ruang kampungnya...
Kaki-kaki kecil, hanyalah kaki yang bersemangat…
Bermain dimana mereka dapatkan ruang atas haknya,
Bagaimana dengan ketangguhan mereka, siapa peduli?

Akhir tahun 2010 nasionalisme Indonesia terombang-ambing dalam haru-pilu-kesal-malu-. . .-lupa.
Haru tercipta dari kembalinya semangat perjuangan Tim Nas “Garuda” yang mati-matian hadapi pertarungan melawan kesebelasan  Negara-negara ASEAN hingga Final.
Pilu merenggut keyakinan untuk dapat meraih juara. Pilu juga ketika kita menyaksikan ribuan penonton yang berbaris tersengat terik matahari, guyuran hujan, tertipu para makelar alias calo dalam rangka mendapatkan tiket masuk stadion.
Kesal yang pertama adalah masalah ‘ruang’. Mengapa stadion yang jelas-jelas dibangun atas cita-cita kebesaran nama bangsa, meski kini telah menjadi tua umurnya seakan-akan telah dicuri jiwanya oleh sang ’orang tua tiri’ yakni politisi yang hidup sebagai parasit dalam kepengurusan PSSI? Kini hanyalah artefak “Gelora Bung Karno” simbol kemegahan bangsa yang kini bergeming, tak berdaya ketika norma-etika-moral terciderai manakala rakyat sendiri demi mendukung wakil bangsanya bertanding harus membayar tarif tiket jauh diatas rata-rata masih ditambah proses seleksi fisik (alias mengantri berdiri). Inikah zaman baru Indonesia yang sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah piala dunia? Zaman global dan maya yang dapat meminimalisir pertemuan ruang fisik seakan terabaikan entah kenapa. Ribuan rakyat yang seharusnya dapat membeli tiket cukup melalui internet seakan-akan dipaksa bertartaruh fisik hingga 24jam, beradu himpit sepanjang ribuan meter untuk ditukar dengan tontonan pertandingan 2x45’.
Kesal yang lain adalah masalah ‘momentum’. Bagaimana pun politik selalu mengincar momentum tanpa sadar akan masalah utama yang menjadi kepentingan khalayak. Disiplin Tim Nas seakan tergelincir dalam jebakan duniawi dan akhirat. Promosi politik kaum hedonis yang dimatanya adalah harta, tahta, wanita, dan suatu yang ketara berupa lumpur yang kian merata... telah memanfaatkan momentum unggulnya Tim Nas dengan melakukan jamuan hura-hura. Kaum berkedok religius pun rupanya menawarkan ‘partisipasi’ sentuhan kuasa akhiratnya demi menuntun Tim Nas pada kemenangan. Inikah rumus yang masuk akal: {hura-hura + doa = Juara} 
Malu sepertinya dapat kita pahami sebagai unsur penting yang seharusnya berfungsi memandu Tim Nas kita pada kondisi yang lebih bermartabat. Seperti kita malu jika ada penonton Indonesia yang nakal bermain laser hijau. Tentu hal ini tak akan berbeda nilainya dengan Negara tetangga,yang telah dianggap mencederai sportivitas bermain. Namun, rasa malu itu dapat menuntun penonton Indonesia untuk dapat berlaku sportif meski tim jagoannya tidak juara. Demikian pula halnya pada sportivitas para politikus hedonis yang sepertinya berusaha mencuri start kampanye, mereka telah mencuri ruang liminalitas milik khalayak sebagai momentum yang tepat untuk mengangkat pamornya dimata publik. Benar salahnya tak perlu kita khawatirkan karena rakyat kita telah cerdas dalam menilai. Namun, masalahnya akibat nihilnya rasa ‘malu’ dalam diri para pejabat tersebut berdampak pada ternodanya sejarah prestasi Tim Nas yang semestinya sudah dirombak prestasinya setelah sekian lama pudar.
Lupa menjadi kebiasaan seperti urusan politik yang cepat memanas cepat pula terlupakan di negri ini. Begitu pula demam nasioalisme Garuda seakan-akan menjadi topik panas yang menggeser topik panas lain seperti regionalisme DIY yang dibingungkan atas nilai demokrasi yang seketika pula berbenturan dengan sejarah dan nilai, ruang, tata budaya didalamnya. Hal ini tentu mirip juga dengan lupanya PSSI akan suatu pembinaan prestasi yang harus kembali diawali sejak pendidikan usia dini, terlanjur diproses secara instan melalui program naturalisasi, dimana sosok yang dijadikan ujung tombak prestasi tersebut menjadi idola dan tumpuan semangat tim Garuda.

Sepatutnya kita bayangkan bila masa perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya kita tumpukan pada seorang Naturalisasi, kemerdekaan macam apa yang sesungguhnya kita peroleh dan banggakan hingga kini?
Kicauan garuda dalam sesi pertempuran AFF Cup telah memberikan kontemplasi yang mendalam akan masalah komitmen dan perjuangan untuk menjadi bangsa yang besar. Setiap peran memiliki kontribusi yang mau tak mau mempengaruhi hasil dari harapan bersama. Dari sini kita pun belajar memaknai ‘batas-batas ruang’, yakni  antara hak dan tanggungjawab pada ruang individu demikian pula hak dan tanggung jawab pada ruang publik.




23/11/10

Washup !!! (Toilet Cum Washing Machine)

atasi pemborosan : Air - Ruang - Waktu

Washup” merupakan sebuah ide cemerlang & desain inovatif yang mana menggabungkan antara fungsi mesin cuci dan closet duduk. Konsep baru ini selain hemat ruang, juga ramah terhadap sumber daya alam - kebutuhan dasar kita sehari-hari y: hemat air
Prinsip kerja mesin ini sederhana, manakala proses mencuci pakaian selesai, air limbahnya akan disimpan yang selanjutnya dapat digunakan sebagai pengguyur *limbah yang lain* [ padat atau cair sesuai kebutuhan kita tentunya.. :D ].
Kalau kita pikir kembali, ada hal ke-tiga yang sebenarnya masih dapat diambil maknanya, tentunya hemat soal waktu Kita dapat menikmati aktivitas ber’ekskresi’ sekaligus mmenunggui proses mencuci pakaian yang akan memakan waktu… Cara demikian penting juga untuk mengatasi suara berisik yang kita timbulkan sewaktu mengeluarkan  limbah dari dalam tubuh kita karena dengungan mesin cuci tersebut secara otomatis akan mengaburkan grtaran suara yang tidak kita harapkan dari aktivitas kita… 
Luar biasa... pergumulan dengan limbah sehari-hari pasti jadi menyenangkan, bukan? =D



.:original content:.

TOILET CUM WASHING MACHINE 

The “Washup” is an innovative design integrating a washing machine with toilet. This new concept is a wonderful and space saving water consumption device that recycles the water that cleans the clothes in the washer to flush the toilet. The “Washup” is certainly an innovative design for the problem of location of washing machines in small bathrooms.




25/10/10

Trend Jogging Warga Solo

simbiosis & pupusnya CINta LOKasi


Sekumpulan manusia menghuni suatu lahan sewajarnya didasari oleh suatu kepentingan yang serupa. Di situ pula mereka akan mengalami pola saling ketergantungan terhadap lokasi dimana mereka menginjakkan kaki.


Pak Ijuk korban relokasi pasar ikan, kini berprofesi sebagai penjual pot hias di sebuah kios kecil di pinggir jalan. Ia tiap pagi menemani dua anaknya sarapan bubur sewaktu subuh sebelum mereka berangkat sekolah. Di dekat kiosnya terdapat warung bubur ayam dari tenda milik mbak Lidi.

Karena takut telat, Abun & Ampo, anak pak Ijuk berangkat sekolah diantar oleh bang Tong seorang tukang becak, saudara mbak Lidi yang bertugas mengembalikan perkakas jualan bubur dan menggantinya dengan perkakas jualan nasi pecel di rumah tinggal mereka. Omah kontrakan setengah gedhek (bilik bambu) milik mbak Lidi berjarak 5 kilometer dari warungnya, dan hanya beberapa blok bangunan dari SD impres Abun & Ampo. Tak lupa bang Tong sekembalinya dari rumah harus mampir mengambil sayur mayur di pasar dan membawanya ke warung tenda mbak Lidi. Jika tidak ada orang yang memanggilnya minta diantar, biasanya bang Tong mangkal di dekat kios pak Ijuk, karena para pembeli pot sering meminta tolongnya mengantar pulang.

Siangnya Abun & Ampo pulang dengan berjalan kaki menuju kios pot hias yang sekaligus adalah rumah mereka. Mereka terbiasa tidak makan siang ,namun hanya minta es teh di warung pecel mbak Lidi. Bila warung tersebut terlihat ramai pengunjung, biasanya Abun & Ampo turut membantu mbak lidi menyuci piring atau mengantar pesanan ke pembeli yang sudah menunggu. Biasanya mbak Lidi memberi mereka sedikit uang jajan setelah mereka selesai membantu.

Mbak Lidi orangnya memang baik, Abun dan Ampo sering mendapat nasihat darinya untuk giat bersekolah supaya bisa membangun kota kelak. Setiap pagi setelah sarapan atau setelah pulang sekolah Abun dan Ampo diminta mengambil dan menata pot-pot hias ayahnya untuk dipamerkan di dekat warung tenda, supaya ketika ramai pengunjung ada kemungkinan pot itu bisa laku atau malah mengarahkan pengunjung untuk pergi melihat kios milik pak Ijuk. Demikian pula Pak Ijuk selalu mempromosikan warung pecel mbak Lidi yang lokasinya di ujung dari deretan kios yang dipakainya berdagang.

Hubungan harmonis yang terjalin beberapa tahun lamanya suatu hari terguncang adanya isu normalisasi jalan. Normalisasi artinya mengembalikan fungsi-fungsi ruang sesuai 'rencana' yang sudah ditetapkan. Menjadi menyeramkan apabila pengertian tersebut merujuk pada aplikasinya, yaitu berupa 'penggusuran'.


Normal yang bagaimana??

Mbak Lidi normalnya, sehari berjualan dua kali untuk memenuhi kebutuhan bayar kontrak dan makan. Normalnya bang Tong bisa mendapat pengguna jasa becaknya dari pengujung Kios Pot pak Ijuk. Normalnya juga Abun & Ampo bisa diantar becak bang Tong ke sekolah tiap pagi supaya tidak terlambat.


Tetapi, 'normal' menurut yang punya rencana sering bertolak belakang dengan pandangan normal pihak pelaku/pengguna area terencana.Pandangan 'normal' pihak mana yang akan bertahan atau terealisasikan pada akhirnya menjadi sebuah kompetisi untuk dapat melakukan sebuah klaim terhadap suatu teritori.

.: tergelitik oleh lirik lagu "Iwan Fals":.



14/10/10

catatan dibelakang bangku perkuliahan

De Javu @ Java  + 
BENCI berpaut RINDU...
[ gerutu perjuangan komunal.... suatu jeda yang menjadi utama dimasa kuliah ]
Sebuah perjalanan mlm mingguan dengan 'themesong' riuh takbiran belum lama saya alami...
Spti biasa sy msh mnikmati berjalan kaki di spanjang kota rumah saya (bukan 'kota rumah kita', =p)hingga nongkrong di atap rumah tingkat milik teman yg msh blm selesai dibangun...
Dingin udara yg menusuk sumsum teralihkan topik obrolan kami yg ngalor-ngidul mulai dr trtembakny artis Top di kamar mandi yg diduga msh mninggalkan milyaran petasan,artis joged dunia yg tewas krn OD dg mwariskan milyaran hutang,& buntut2nya sampai mempermasalahkan "presiden2 di Indonesia sebenarnya sudah mewariskan apa?"....
terlepas dr mslh presiden itu artis atau bukan, ini smua bs mjd bahan kontemplasi....
"Apakah yg kita rasakan sekarang masih bernoda warisan rezim2 terdahulu??" (mungkin ada yang menyebutnya sebagai era post-kolonial, begitu....)
DOR! Tepat, kami memandangi sebuah atap rumah tetangga dengan site-nya persegi panjang yg menjorok dari pola grid perumahan yang lain.
Rumah ini menjadi dikelilingi jalan pada tiga sisinya, sisi yg lain masih menempel dinding tetangganya membentuk persegi panjang.
Rumah tersebut jadi sedikit 'horor' karena 'nusuk sate' depan-belakang...
"Itu dulu-nya jg lapangan voli..." kt teman sy, "ruang masyrkt bercanda-ria, yg akhirnya mjd rumah seorang pramuria" sahut teman saya lainny...
"yg bersuamikan orang agra-ria... di zaman orba..." ktnya lg sblm saya sempat menanggapi...

That's cool!! 
De javu @ Java... kepala bagai terserang schizophernia rasanya...
Sy teringat kembali zaman keemasan dari sebuah gerombolan "cAfestudio" d sebuah atap pasar Johar...
bersama pasukan yg "SOK ELIT" itu kami "berdiskusi ngalor-ngidul"
(setingkat lbh tinggi drpd "ngobrol ngalor-ngidul"), walaupun topik bahasanny sm2 'luber2', tp setidaknya bs dibilang tidaklah ember, brrti tetap ELIT y?? =p)
dari pertanyaan AASP yg filosofis, (tp klo sy tdk slh ingat y) "untuk apa semua ini?" -- mksudnya proses bljr CS 'on the grass road' yg kt lakukan slma ini.Nyaris sj trjadi perdebatan Platonik disana.Kemudian, YKHP membagi kisah kenaifannya ketika tak dpt menjwb pertnyaan "apa yg kmu ketahui ttg kotamu?" oleh seniorny d sbuah aliran perguruan ars.
Ya itulah mengapa harus "50% touch the site & 50% touch the book" (kt DAS terdahulu, ditambah sedikit gubahan dalam eksplanasi sy);
meski Klo u/ MMT ato AS kemungkinan akan berbeda formulasinya mjd "33,3% touch the site, 33,3% touch the book, & 33,3% touch the laptop for design"
atau klo u/ sy formulasinya mjd "33,3% touch the site, 33,3% touch the book, & 33,3% talk with people" (hahaha.. serius ini bukan kritik, tp brcanda).

Back to ... KOTA...
Damn!!! Dari kenaifannya itu, akhirnya YKHP bs menginterpretasikan bhw Pasar Johar itu jg adl sebuah KOTA.
Atau boleh sy sebut sebagai gedung urbanisasi pedagang
(arti 'urbanisasi' bukan perpindahan dr desa ke kota, tp proses "meng-kota")
Selain terjadi transaksi disana, trjadi pula pmbentukan struktur organisasi msyrkt pedagang layaknya RT/RW.
Uniknya, terjadi pula proses regenerasi yg tdk ubahnya terjadi spti kehidupan msyrkt kota.Msyrkt hidup berkeluarga & punya anak disana.Anak mereka bermain dan bersekolah disana, hingga bertumbuh dewasa, bekerja menjadi pedagang,menikah dan membentuk keluarga baru jg disana. Ada warung2 makan, fasilitas rg olahraga, dll. Ada pengemis, pengamen & masyrkt nomaden lainnya. Apa ini tdk bs disebut sebagai KOTA?
Mereka jg mengikuti perkembangan informasi seperti msyrkt umumnya saat ini, ada radio, TV, dg sekian jmlh antena yg menyembul datas atap gedung tersebut. Mungkin sebentar lg internet Wi-Fi. [jelas, ini bukan interpretasi liar spti yg sering 'digasaki' (baca: komentar menyindir) o/ DAS, hahaha..]

Apa yg membuat sy De JaVU @ Java??
Kita sepakat terlebihdulu bahwa permasalahan di Johar sebenarnya berupa teritori kawasan yang menyangkut beberapa massa bangunan, termasuk P.Yaik, P.Kanjengan, Matahari, Htl. Metro, dan sekitarnya.
Berdasarkan telaahan YKHP yg telah dikonfrensikan hingga medan tempur 'Rambo' di Hanoi, terungkap bahwa dulunya semua kawasan tersebut adl kawasan alun2 Semarang. Di sinilah bedanya, apa yg sy lihat semalaman adl sebuah transformasi lapangan voli mjd rumah tinggal, dan satunya lagi adalah yang saya amati bersama teman2 gerombolan "cAfestudio" ketika sempat berkeliling sebuah kawasan yg dulunya alun-alun kini hanyalah rentetan gedung-kumuh.
Alun-alun yg mempersatukan tradisi etnik dan agama, semenjak orba area terbuka publik tersebut bertransformasi menjadi dinding-
dinding yg mengkotak-kotakkan privasi. Entah seperti apa beda masyarakat kota saat ini dan era terdahulu dalam memaknai ruang publiknya yang tersisa di tengah kota?

Sy jd skeptis... & nyaris apatis....
Apakah ada jalinan interaksi positif terhadap masyarakat yg seharusnya membuahkan kebermaknaan sosial dari sebuah proyek fisik bangunan - yang mungkin berdiri sebagai legitimasi pembangunan atau sekedar strategi oportunity belaka?
Sedikit mengutip ungkapan Marco Kusumawijaya, "...Lebih besar Lingga daripada Yoni-nya..." -- besar bangunannya, kecil pemaknaannya...
Kasus ini masih @ Java, lebih tepatnya @ Central Java, & kemungkinan bila sy nongkrong diatas atap bangunan lain lagi saya akan menemukan hal yg setipe.
hahaha...


....CUT !!! (penggalan kisah diatas sudah terlalu panjang & sangat melelahkan bila diulang menjadi sebuah kenyataan)
Mungkin juga terlalu banyak sy mengolah kisah tersebut shg mjd terlalu cantik atau justru membosankan...
Mungkin semua BENCI karena cAfestudio sendiri tidak, atau belum mencapai 'klimaks' pada kisah pengembaraannya...
(yg pernah nomaden, pernah jg menetap, dan yg sdg berusaha benar2 bisa menetap...)

BENCI, seakan semua hal itu sia2... Tapi, itukah jawaban dari pertanyaan "untuk apakah semua ini?"Jika itu jawabannya, tentu skrg sy tdk bs memaknai serangan schizopernia yg terjadi manakala mengingat "the strugle of CS, between learn on the grass road and learn to be a good character"yang sungguh bisa mengucurkan keringat bagi yg terlibat didalamnya, hingga berbinar air mata bagi yg sekedar mendengarkannya.

Setidaknya, melalui 2 preseden 'transformasi ruang' yg mjd topik 'grundelan' diatas atap & seakan membuat saya de Javu tsb, kini saya mendapat sebuah refleksi.
Ada suatu proses pembelajaran (yg mungkin 'ngalor-ngidul' tadi...)
yg pernah dilakukan oleh CS melalui brainstorming langsung pada lokasi yg akhirnya menghasilkan pengendapan pengalaman,baik yang berasal dari wacana, interpretasi, memori ruang ataupun sebagainya sehingga memperkaya pengalaman pada kasus lain yg serupa.

Dari sini sy hrs bilang kalau sy RINDU pada ruang beradu, diatas atap, dibawah langit biru...
Berharap jgn semua begitu saja berlalu...

nb pesan: (u/ itu perlu kita singgung S8 supaya semua terdokumentasi dengan baik, shg tak menjadi angin lalu :: bravo EIW!!!)
 
*tulisan ini diposting ulang dari blog CAFESTUDIO8 sebagai apresiasi terhadap fase pergerakan yang mendahuluinya, sebuah gerombolan skeptis bernama cAfestudio.
 

life dimension

Foto saya
distillation space for re-thinking about rural-urban living way.
こうこく ○. Diberdayakan oleh Blogger.